www.pi-sang.com - Upaya Mengenali Bahaya Bencana dan Cara Mengurai Risikonya. Tak akan ada yang bisa melupakan gempa bumi dan tsunami yang melanda aceh pada 26 desember 2004 yang lalu. Dengan kekuatan gempa 9,3 SR, gempa ini menjadi gempa paling mengerikan yang pernah terjadi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Tak hanya aceh saja, gempa ini pun dirasakan di beberapa kota dan negara di sekitaran Indonesia seperti Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, dan Srilangka. Kekuatan gempa ini pun bahkan bisa dirasakan hingga Afrika.


Gempa yang berlangsung selama 8-10 menit lalu disusul tsunami dengan tinggi ombak mencapai 9 meter memakan korban yang cukup besar, kurang lebih 230 ribu orang meninggal dunia di delapan negara. Indonesia merupakan negara yang paling parah terkena dampaknya dengan perkiraan korban tewas mencapai 170.000 orang. Tak hanya korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan kota hancur dan lumpuh. 

Bencana alam atau gempa akan kerap datang secara tiba-tiba, ada yang didahului tanda terlebih dahulu ada juga yang tidak adanya tanda terlebih dahulu. Meski ilmu pengetahuan semakin maju dalam memprediksi terjadinya bencana, namun tetap belum bisa memastikan, kapan tepatnya bencana akan kembali terjadi. 

Kita bisa membandingkan gempa yang terjadi di beberapa negara di dunia seperti di selandia baru dengan kekuatan gempa mencapai 7,8 SR pada 13 november 2016 yang lalu hanya menewaskan 2 orang sedangkan gempa yang terjadi di Pidie Jaya dengan kekuatan gempa 6,5 SR yang memicu kerusakan parah dan memakan korban jiwa mencapai 104 orang akibat tertimpa bangunan. 

Banyak orang bertanya-tanya, "Mengapa gempa yang terjadi di Pidie Jaya dengan kekuatan gempa yang relatif kecil malah memakan banyak korban, sedangkan di selandia baru yang kekuatan gempanya lebih besar hanya menewaskan 2 orang saja." 


Oleh karena itulah tindakan pencegahan menjadi hal yang sangat penting. Ada studi yang menyebutkan sebagian besar korban meninggal yang terjadi dalam peristiwa gempa bumi atau bencana alam bukanlah disebabkan oleh gempa bumi atau bencana alam itu sendiri, melainkan konstruksi bangunan yang kurang memiliki ketahanan terhadap gempa yang terjadi.

Dilihat dari kajian yang dilakukan oleh Unsyah menemukan banyak sekali bangunan yang hancur dibangun setelah tahun 2004 termasuk bangunan pemerintah dan rumah sakit. Banyak bangunan yang salah konstruksi, misalnya banyak kesalahan sambungan antara kolom dan balok, ditemukan kolom diisi pipa paralon. (sumber: Syamsidik, Wakil Ketua Tsunami dan Disaster Mitigation Research Center Unsyiah).

Contoh lainnya seperti banjir bandang yang muncul, bukan semata-mata disebabkan oleh tingginya curah hujan, namun lantaran kurangnya penutupan lahan di wilayah tangkapan air di hulu sungai.

Dari dua hal contoh tersebut, korban jiwa sebenarnya dapat dikurangi secara nyata apabila diterapkan aturan konstruksi tahan gempa dan aturan penebangan pohon yang ketat di hulu sungai.

KENALI BAHAYANYA KURANGI RESIKONYA

Setelah gempa dan tsunami yang melanda aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu, kemajuan manajemen penanganan bencana Indonesia, khususnya gempa dan tsunami mengalami perkembangan pesat yang dapat memungkinkan pemerintah mengirim peringatan tsunami kurang dari lima menit setelah gempa terjadi baik itu skala kecil ataupun besar.

Walaupun gempa yang terjadi hanya menimbulkan resiko yang kecil dan tak ada kerusakan, hal itu menjadi pelajaran yang penting. Terutama untuk mengurangi risiko bencana atau gempa bumi dan meningkatkan ketangguhan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi bencana. Kenali bahayanya, kurangi risikonya . Inilah yang harus masyarakat Indonesia pahami.

Secara garis besar bencana dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:

1. Bencana yang disebabkan karena alam, yang meliputi: letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, angin ribut, dan gas beracun. Sebenarnya tak banyak yang bisa diperbuat untuk  bahaya yang disebabkan dari alam ini, hal-hal yang dapat mengurangi resiko yang tidak diinginkan yaitu masyarakat harus lebih sadar untuk menghindari daerah yang rawan bencana, misalnya tidak tinggal atau menetap di daerah yang rawan bencana seperti di lereng gunung, tepi perairan, dan lain sebagainya.


2. Bencana Karena Ulah Manusia, yang meliputi kebakaran, perang, tanah longsor, pencemaran, banjir bandang,  kekeringan, dan pergolakan sosial. Dengan mengenali daerah yang rawan terutama untuk rawan banjir dan tanah longsor di suatu wilayah merupakan tahap paling awal untuk mengurangi risiko bencana. Selain itu pula pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan juga harus mempertimbangkan potensi banjir dan tanah longsor di kawasan rawan tersebut.

Hal yang juga perlu dipahami bahwa banjir dan longsor termasuk proses alamiah, yang tidak akan menimbulkan bencana kalau tidak berinteraksi dengan kehidupan manusia di lokasi banjir atau longsor tersebut.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi bencana yang mungkin akan terjadi di kemudian hari, karena siapapun bisa terkena bencana. Agar bisa selamat adalah hal yang paling penting sebelum bencana itu terjadi. Seperti membuat pelatihan-pelatihan kepada anak-anak, keluarga, ataupun sistem belajar-mengajar yang ada di sekolah dengan menumbuhkan budaya sadar bencana kepada murid muridnya.




Indonesia memiliki Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang bisa menjadi wadah yang kuat untuk mengatasi masalah kebencanaan di Indonesia. Jika berbicara soal bencana perlu adanya dukungan dari pihak lain juga yang dapat ikut serta ambil bagian dalam menjaga dan memberikan pelatihan-pelatihan terkait upaya penyadaran kepada masyarakat untuk mengurangi risiko bencana yang terjadi, seperti masyarakat itu sendiri, mahasiswa, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, pemerintah pusat, serta semua orang yang ingin terlibat dan ambil bagian untuk Indonesia yang lebih maju. 


Sumber Gambar : bnpb.go.id #TangguhAward2018 #BudayaSadarBencana #SiapUntukSelamat
31 Komentar
Tag
  • 31 Komentar
  • Stiker
    1. Kalau ingat bencana mengerikan tsunami itu benar-benar menakutkan.
      Meski aku ngga secara langsung mengalami kejadian dahsyat itu, aku langsung sempat nangis waktu temanku asal Aceh yang merantau di Jakarta saat itu bercerita bagaimana panik luar biasanya nunggu kabar keluarganya menghadapi bencana itu.

      Semoga kelak tidak pernah terjadi lagi bencana tsunami, untuk itu salah satunya kita wajib mentaati peraturan tidak mencemari lingkungan, membuang sampah sembarangan.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Benar sekali mas, saya juga pernah diceritakan oleh saudara-saudara saya yang mengalaminya dan sampai kehilangan anggota keluarganya disana. Semoga saja ya mas dikemudian hari tidak ada lagi bencana se mengerikan itu, tetap selalu siaga dan siap untuk selamat dari berbagai ancaman yang ada di depan sana, Tetap selalu sadar akan mengenali bahaya dan mengurangi resiko yang ada..

        Lebih baik mencegah daripada mengobati.

        Delete
    2. Tindakan pencegahan itu perlu seperti konstruksi tahan gempa, dan juga perlu pelatihan apabila terjadi bencana yang paling rawan di daerah setempat, apa yang perlu dilakukan, dan lain sebagainya. Kalau kami di Ende paling sering gempa, dan kami tahu (seperti settingan default), kalau gempa harus lari ke luar rumah karena konstruksi rumah bukan yang tahan gempa.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Betul sekali mba, tetap perlu adanya pelatihan-pelatihan di kota-kota Indonesia secara merata dan tetap adanya dukungan dari beberapa pihak supaya dapat cepat terelasiasikan dan semua masyarakat Indonesia sadar akan bahaya dan paham cara mengurangi risiko yang terjadi

        Delete
      2. Betul sekali. Oia, saya lupa. Di Ende, tepatnya di dekat kaki Gunung Iya (gunung berapi yang terakhir meletus tahun 1969) itu juga beberapa kali ada latihan penyelamatan diri jika terjadi gunung meletus dan air laut naik (nggak sampai tsunami).

        Delete
      3. Nahh ini bisa menjadi contoh yang baik untuk semua masyarakat Indonesia khususnya di beberapa kota kota yang sudah ditandai oleh BNPB Indonesia sebagai tempat yang rawan bencana seperti pada gambar yang ada artikel ini..

        Yah karena Indonesia juga tempat pertemuannya antar berbagai lempeng di dunia, jadi wajar saja jika terjadi bencana alam yang dasyat.. Tapi untuk mengatasi hal itu kita harus mengenali dulu bahaya bencana itu dan memikirkan bagaimana cara mengurangi risiko dari bencana itu.. Seperti yang Mba Tuteh lakukan dengan membuat pelatihan-pelatihan mengatasi bencana, mengurangi risiko bencana, dan lain sebagainya...

        Delete
    3. Saya masih teringat gempa bumi yg baru saja menghantam Lombok dimana beberapa saudara kami tinggal disana.

      Edukasi kepada masyarakat sangat penting utk bisa meminimalisasi korban akibat bencana tsb dan juga sumber informasi yg tepat sangat dibutuhkan sehingga tdk mudah percaya dgn hoax yg malah bisa membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Semoga keluarga yang berada disana dalam keadaan yang baik baik saja ya.. Semoga membantu

        Delete
    4. semoga segala bencana apa pun yang ada di negeri ini bisa di minimalisir. karena jika mengenang bencana Aceh benar-benar parah..

      ReplyDelete
      Replies
      1. Betul sekali mas Indra, kenali bahayanya kurangi resikonya..

        Delete
    5. gue masih enggak mau inget kejadian tsunami 2004 itu. sedih banget kalo diinget lagi.
      tapi emang sepertinya bangunan rumah itu juga emang punya pengaruh besar ya. dan dari yang gue denger, katanya bangunan di jepang itu juga dibangun secara khusus jadi anti gempa gitu. bener ga sih ya?
      ya pokoknya sekarang jadi lebih aware lagi sih nih, kalo punya duit buat bikin rumah, hal-hal kayak gini harus diperhatiin sih

      ReplyDelete
      Replies
      1. Yappp.. selain rumah yang tahan akan gempa juga perlu adanya pengetahuan lainnya tentang mengenali bahaya bencana dan cara mengurangi risiko bencana itu. Hal ini bisa didapatkan melalui latihan-latihan penangan bahaya bencana yang ada di kota yang ada di daerahnya masing-masing.. Semoga bisa membantu :)

        Delete
    6. semoga kita terhindar dari bencana yang akan datang. bagaimanapun kita sebagai manusia haruslah terus berdoa kepada tuhan yang maha esa agar kiranya kita senantiasa diberi umur panjang dan di jauhkan dari bencana

      ReplyDelete
    7. Aduh. Sampai tidak tahu harus komentar apa bila ingat tentang tsunami 2004 lalu.

      Rumah panggung seperti rumah di kampung saya adalah salah satu bangunan yang tahan gempa. Ketika gempa rasanya seperti terayun.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iyaaa saya juga dikos juga merasakan gempa walaupun hanya sedikit yang terjadi beberapa minggu yang lalu.. Semoga kita selalu diberikan kesalamatan dan dijauhkan dari bencana. Selalu berdoa saja..

        Delete
    8. Berarti sosialisasi dan konstruksi bangunannya sebaiknya dikaji ulang ya mas... Kuylah kita kaji ulang, *eh

      ReplyDelete
      Replies
      1. Yuk yuk yuk, dimulai dari kita kita nih hhe

        Delete
    9. Bener juga sih, kebanyakan korban gempa bumi meninggal karena tertimbun reruntuhan bangunan ya. Ini beneran sambil baca sambil nelangsa inget dlu pernah ngalamin issue tsunami :(

      ReplyDelete
      Replies
      1. Uchhh... sabar ya mbaa, semoga selalu diberikan keselamatan dimanapun dan kapanpun..

        Delete
    10. ya allah semoga jangan sampe terjadi lagi tsunami di negeri kita tercinta ini yaa.. Amin ya robbal alamin,, emang harus ada upaya agar kita bisa mempersiapkan sedini mungkin untuk mengurangi resiko tsunami.. Thanks for sharenya kang

      ReplyDelete
    11. Tentang Tsunami memang sungguh menjadi kenangan, sekarang bangunan sudah mulai ada anti gempanya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Dan juga jangan lupa dibekali pengetahuan akan mengenali bahaya bencana dan cara mengurangi risiko terjadinya bencana tersebut...

        Delete
    12. semoga kita semua dijauhkan dari bencana apapun bentuknya, tragedi tsunami aceh emang membekas banget sampe sekarang :(

      ReplyDelete
    13. manajemen bencana selalu diperlukan untuk melatih kesiapsiagaan masyarakat akan hal-hal yang tak terduga. selalu salut dengan pekerja-pekerja yang bersinggungan dengan bencana dan bersinergi membantu masyarakat. semangat terus!

      ReplyDelete
      Replies
      1. Selalu salut ya mba sama orang-orang yang udah relain waktu dan tenaga nya untuk Indonesia, selalu membantu orang lain dikala sedang kesulitan... BNPB Indonesia emang yang terbaik lah, bangga punya BNPB di Indonesia ini..

        Delete
    14. memang betul yang dikatakan oleh rekan2 diatas, salah satunya konstruksi rumah memang perlu tahan gempa.

      ReplyDelete
    15. Selain karena faktor besarnya kekuatan dari sang gempa, berarti faktor konstruksi bangunan yang salah juga bisa menjadi penyebab utama banyaknya korban yang berjatuhan selama gempa di Indonesia, ya? Semoga kedepannya, kesalahan kecil macam ini bisa diperbaikii sehingga ketika ada gempa lagi, korban bisa berkurang. Syukur-syukur kalau tidak ada. Aamiin

      ReplyDelete

    KETENTUAN BERKOMENTAR :

    Jika Masih ada yang belum jelas bisa bertanya pada kolom komentar dibawah,

    atau menghubungi saya melalui Halaman Kontak.

    Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan sesuai dengan isi artikel diatas.

    Semua komentar dengan menambahkan link aktif akan dihapus dan tidak akan dipublikasikan.

    Centang kotak Notify me untuk mendapatkan balasan notifikasi komentar.
  • :))
    :((
    :D
    :(
    :)
    :-)
    ;)
    =))
    :p
    =.=
    ==
    ^_^
    /=he
    :*
    /=r
    /=l
    :v
    /=ok
    /=clap
    (y)
    (yy)
    /=hi
    /=j
    /=hup
    /=hd
    /=hl
    /=hr
    /=s
    <3